Pustaka Digital SMAN 5 Bogor
Generasi Literasi SMANLi
Temukan setiap halaman yang menunggu untuk dibaca, setiap pengetahuan yang siap mengubah dunia.
Generasi Literasi SMANLi
Temukan setiap halaman yang menunggu untuk dibaca, setiap pengetahuan yang siap mengubah dunia.
Agus Budi Santoso - Nama Orang; Ilham Khoirul Anam - Nama Orang; Bimas Surya Wijaya - Nama Orang; Merita Dwi Riskia Setyani - Nama Orang; Selvi Kia Triningsih - Nama Orang; Achmad Luthfi Nur Rofi - Nama Orang; Anugrah Riza Apria - Nama Orang; Ruth Navtali Dima - Nama Orang; Sriyanti - Nama Orang; Febbyana Ary Rahmawati - Nama Orang; Nur Azis Fakhurrohman - Nama Orang; Denny Indria Ferawati - Nama Orang; Ririn Sutalia - Nama Orang; Ami Mustamiroh - Nama Orang; Erna Saraswati - Nama Orang; Firda Umiyatun Baroroh - Nama Orang; Ida Nur Khasanah - Nama Orang; Muhammad Fauzan Cahyoko - Nama Orang; Risa Triyuliana - Nama Orang; Sheila Octarina Nur Azizah - Nama Orang; Barid Adam Firdaus - Nama Orang; Ulfa Hidayati - Nama Orang; Wuriyan Radia Kusuma Wardani - Nama Orang; Rifa Sausan Ariqah - Nama Orang; Sri Haryatmo - Nama Orang;
Computer File · 2018
Buku antologi ini memuat 24 karya siswa. Buku antologi ini memuat karya dari 27 siswa SLTA (SMK, SMA, MA) Kabupaten Bantul, peserta kegiatan Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia. Tulisan-tulisan fiktif imajinatif dalam antologi ini tak hanya berlatar sekolah atau bertema siswa dan dunia pendidikan, namun juga tentang berbagai problem sosial dan kemanusiaan yang ada di sekeliling para penulisnya. Tulisan yang dimuat dalam buku ini tentu dapat menjadi pemantik dan sekaligus penyulut api kreatif pembaca, terutama anak-anak, remaja, dan generasi muda.
Kegiatan semacam Bengkel Bahasa dan Sastra ini perlu sebagai awal meningkatkan keterampilan berbahasa dan bersastra Indonesia. Karya-karya pesertanya dapat memperkukuh tradisi literasi anak muda, juga dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia.
Sesaat kemudian, Pakde Browo menatap melas ke arah ibunya. Ingin berlari, namun urung. Kaki Pakde Browo kaku, mati rasa seolah membeku mendapati lekukan senyum kaku Mbah Putri yang damai, namun menyisakan rembulan yang terpecah di sela-sela kelopak mata anaknya.
Pakde Browo memaksakan kakinya untuk bergerak, berlari menghampiri Mbah Putri yang telah layu bagai sinar rembulan yang terkulum malam kelam.
(Lambaian Rembulan Layu, halaman 60)
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain